Jumat, 01 Februari 2008

pada malam

dedaunan mengalun lembut dalam irama kegelapan. ia tersenyum menyambut sapaan sang gerimis. ada alunan gitar dan petikan kecapi antara syair-syair dan puisi. pun ada hati yang meratap rindu dan menyulam tangis dalam peraduan malam. semua berpacu pada keganasan sang waktu yang kadang tak memihak. tak melihat apa yang terukir di sudut kalbu. perihkah? atau sakitkah?

dan aku melihat lentera pada panggung pertunjukan. sepi. tak bergeming. lalu kudengar merdu suling dalam kelam yang mulai menyayat. aku bertanya dalam nurani yang paling jujur, "apa ini hukuman atas semua kesalahanku, Tuhan?"

pada akhirnya gerbang kebesaran Sang Khalik itu menjawab tanyaku. dan aku tersenyum dalam kekuatan yang tersisa. satu satunya senyum yang masih bisa diukirkan bibirku....................

Tidak ada komentar: